Selamat datang di BLOG PRIBADI MARZUKI. Blog ini adalah catatan Marzuki Bersemangat disela-sela aktivitas. TEMAN-TEMAN BLOGER NGAWI MARI KITA TUKAR IDE MEMAJUKAN KOTA NGAWI. Dulur-dulur semua, bagi yang ingin mengirimkan tulisan bisa dikirimkan ke komen. atau via email marzuqqi@yahoo.co.id

Sabtu, 06 Juni 2009

TAQDIR

kang Kipli sulit memejamkan matanya. Dia terus teringat dengan pengajian tadi siang dengan K. Haris di sekolahnya, pengajian dan diskusinya terus direnungkan, karena pertanyaan yang selama ini ia pendam terjawab sudah oleh Sang Kyai. Dia semakin kagum dengan kyai itu, kekaguman tentang luasnya pemahaman ilmu dan karakternya. Dawuh-dawuhnya yang sangat menusuk, serta pemberian motivasi membuat desire Kang Kipli bergelora kembali. Teringat ketika sedang jatuh cinta dengan seorang gadis cantik, Inarotudduja dari Kediri. Sang Kyai selalu menyindir Kang Kipli dengan dawuh-dawuh yang pedas. Bahwa seseorang yang mempunyai mimpi untuk memperjuangkan masa depannya, sedangkan tiap detiknya ia habiskan waktunya, melamun gadis pujaan hatinya, maka ia pantas disebut orang o’on bin bahlul. Sang kyai pun berpesan, lelaki tidak pantas mengejar perempuan, justru yang lebih pantas perempuan yang melamar laki-laki. Ketika Sang Kyai mengucapkan dawuhnya inipun, sempat pula ada protes dari santri perempuan. Kemudian beliau menjelaskan, bahwa lelaki yang layak untuk dilamar perempuan bukanlah sembarang lelaki, tetapi lelaki yang benar-benar cakap dan memang pantas untuk dilamar.
“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu sendirilah yang merubahnya”. (Arra’d, 11)
Ayat inilah yang sudah lama dipendam Kang Kipli, apa maksudnya??? Dia bingung, karena ada dua Kyai besar NU memberi penafsiran yang berbeda terhadap ayat ini;
“Maju atau mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh bangsa itu sendiri, manakala bangsa itu mau berjuang untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas pendidikannya maka bangsa itu akan maju, sebaliknya jika system pendidikan suatu bangsa itu roboh maka bangsa itu akan hancur”. Dawuh salah satu Kyai NU, Pengasuh Pesantren Besar Jombang, dengan mengutip Surat Arro’d ayat 11.
Kang Kipli masih ingat pidato itu disampaikan disebuah Pondok Al-Jombangi, dalam sebuah acara perpisahan akhirusanah. Pidato Kyai besar NU dari Jombang itu memang masih teringat jelas di otak Kang Kipli, sehingga membuat kesimpulan, yang dimaksud surat Arro’d ayat 11 tersebut adalah bahwa semua tergantung dari usaha manusia itu sendiri, walaupun kadang bertanya pada diri sendiri “ saya As’ariyah atau Mu’tazilah?
Pernah Kang Kipli mendengarkan pengajian tasawuf, disebuah Radio FM terkenal di Jombang. Pembicara dengan jelas menerangkan tafsir dari surat Arro’d ayat 11 dengan membuat ilustrasi; yaitu Sebuah rumah tangga. Suami istri yang hidup harmonis dalam magligai keluarga. Suami terkadang meminta tolong kepada istrinya untuk dibuatkan kopi, Istri dalam posisi seperti ini bagaikan pembantu. Lain waktu istri juga meminta tolong kepada suaminya untuk diantarkan ke Pasar dan bahkan membawakan barang belanjaan. Suami dalam posisi seperti ini bagaikan pembantu dan istri bagaikan majikan, yang pada hakikatnya suami tetap suami bukan majikan atau pembantu, begitu pula kedudukan istri tetaplah istri bukan sebagai pembantu ataupun majikan. Pada intinya yang dimaksud surat Arro’d ayat 11 tersebut. Walaupun manusia itu berusaha kemudian berhasil pada hakikatnya semua dari Allah.
Kang Kipli tetap bingung harus memilih yang mana menenai penafsiran sutar Arro’d ayat 11, ikut yang Kyai di Radio FM itu atau pilih saja yang kelihatan Mu’tazilah, Kyai Pengasuh Pesantren besar Jombang itu, kebingungannya di lepaskan siang tadi, ketika pengajian Sang Kyai, saat dibuka Tanya jawab.
“banyaknya khazanah, referensi adalah untuk memperkaya keilmuan, bukan untuk dibingungkan. Setiap pendapat mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, atau bahkan bisa dipadukan. Ingat!! Bahwa adanya surat arro’d ayat 11, juga ada ayat yang menerangkan bahwa Allah mencipatkan sesuatu yang tidak diketahui kamu semua ketahui. Segala usaha manusia pada akhirnya Allah pulalah yang menentukan”. Dawuh Sang Kyai, dengan menjembatani dua pendapat itu.
Marzuki

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Taqdir itu ya...

ada atau tidak ya????